Latest Posts


Saya ingat sekali hari itu. Saya dan teman-teman satu kantor sedang duduk makan siang di hari yang menjemukan. Tetiba seorang teman berceletuk, "Eh masa ada berita seorang penyanyi dangdut mati dipatuk ular!" Kala itu jujur saja, saya tidak bisa menahan tawa. Ya, saya tahu itu sangat tidak pantas tetapi tawa itu seperti reaksi otomatis yang sulit dihindari. Ada dua alasan utama: 1.) Judul sensasional yang sangat 'norak' akan pemberitaan tersebut dan 2.) Penyanyi dangdut meninggal dipatuk ular???? Serius??! Terlalu konyol dan absurd.

Kami lalu mencari-cari video sang penyanyi ketika tampil. Layaknya biduan dangdut pantura, ia memakai pakaian aduhay. Hanya saja ada ular yang melilit di lehernya. Ia bernyanyi di hadapan banyak orang yang kebanyakan bocah. Ada adegan sang biduan melempar si ular ke lantai. Saya sempat berpikir bahwa tak heran jika kemudian hari si ular 'balas dendam'. Ia menganggap makhluk hidup itu sebagai properti belaka. Pikiran itu masih terus bertahan hingga akhirnya hari ini.

Seorang teman me-repost artikel TIME tentang sang biduan. Ternyata kematian sang biduan juga menjadi headline di media internasional. Artikel berjudul Here’s the Real Story Behind the Indonesian Singer Irma Bule, Who Died From a Cobra Bite oleh Yenni Kwok ini menyadarkan sikap sarkas nan apatis saya dan mungkin ribuan masyarakat Indonesia lainnya. Bahwa memang di balik peristiwa absurd nan konyol di negara dunia ketiga akan selalu ada kisah ironis. Termasuk kematian Irma Bule ini.

Irma Bule bernama asli Irmawati adalah ibu beranak tiga. Berusia 26 tahun dan sudah menjadi biduan dangdut sejak lulus SMP. Ia biasa tampil dari satu kampung ke kampung lainnya demi memenuhi kebutuhan keluarga. Alasan ia menggunakan ular adalah untuk menarik banyak masa dan tentunya honor yang lebih besar yang juga tak seberapa. Hingga akhirnya ia meninggal dipatuk ular kobra adalah sebuah kisah ironis dari hal yang dinamakan kemiskinan.

Saya tetap tidak setuju dengan cara sang biduan dan orang-orang yang mendukung di baliknya memperlakukan sang ular. Namun, saya juga tidak terima cara media kuning memberitakan kematian sang biduan. Kwok menulis "She certainly doesn’t deserve to die amid a storm of lurid, tabloid headlines." Kematian Irma dan siapapun tak pantas diberitakan dengan cara 'sensasional tak berkelas' seperti itu. Kematian adalah kematian. Tak peduli bagaimana prosesnya, ia adalah duka. Dan mengeksploitasi duka untuk sebuah keuntungan tak pernah manusiawi.

Kemudian Kwok mengutip tulisan jurnalis Indonesia Made Supriatna yang mengatakan, “She fights hard. She exploits what she can exploit to go on living." Dan pada akhirnya saya melihat bahwa hidup memang lingkaran karma yang tak pernah putus. Irma mengeksplotasi ular untuk mencari nafkah dan para reporter media kuning mengeksploitasi kematian Irma juga untuk penghidupan.

Di negara dunia ketiga, ketika kemiskinan menjadi pemandangan biasa dan prihatin sekadar kata tanpa rasa, semua menjadi lumrah atas nama mencari nafkah.



Dalam sebuah film keluaran tahun 1994 yang mengisahkan kegelisahan manusia di usia 20-an, Reality Bites, Ethan Hawke yang berperan sebagai Troy Dyer, pemuda filosofis dengan kehidupan berantakan, mengatakan sesuatu yang tak mudah dilupakan. Kepada Lelaina Pierce, yang diperankan dengan apik oleh Winona Ryder, gadis yang berharap dirinya menjadi 'seseorang' di usia keduapuluhtiga, ia berujar: "Sayang, satu-satunya hal yang harus kamu wujudkan di usia dua puluh tiga adalah menjadi dirimu sendiri."

Dan perjalanan menjadi diri sendiri mungkin sama halnya dengan perjalanan mencari kebahagiaan. Tak pernah berjalan ke luar tetapi ke dalam dan sulitnya, seiring manusia dewasa, perjalanan ke dalam menjadi labirin yang semakin menjemukan. Mungkin itulah sebabnya keluar istilah, "Jangan bertumbuh dewasa. Itu sebuah jebakan." Karena kamu tak banyak menemukan orang dewasa yang bahagia tanpa bergantung pada sebuah materi.

Ketika kecil kamu tidak berpikir bahwa realita adalah apa yang menunggumu di balik pagar rumah. Bukan perjalanan singkat ke taman ria, tetapi harapan dan kewajiban yang 'harus' kamu penuhi untuk dipandang 'bahagia'. Sebut saja pekerjaan mapan, pasangan yang setia dan siap dipinang, atau sekian rupiah uang di tabungan untuk membeli rumah masa depan. Keamanan menjadi tolak ukur kebahagiaan. Keamanan-keamanan yang dibangun untuk menandakan bahwa kamu sudah dewasa dan dijamin bahagia.

Tetapi, tahukah kamu? Keamanan juga sama halnya dengan kebahagiaan. Berjalan ke dalam dan tak pernah keluar. Kamu bisa saja berada di dalam bunker anti nuklir ketika perang dunia ke-3 nanti akan dimulai, tetapi ketika kepalamu berkata sebaliknya...kamu tak ada bedanya dengan mereka yang berdiri di depan senapan.

Kembali ke perjalanan menjadi diri sendiri, pikiran saya tak jauh beda dengan Lelaina. Saya pikir saya akan menjadi 'seseorang' di usia yang lebih dari sepermpat abad ini. Nyatanya saya tidak memiliki pekerjaan, uang yang cukup di tabungan, ataupun rencana untuk membeli rumah masa depan. Modal saya cuma keyakinan dan perjalanan tanpa henti untuk melihat ke dalam. Tak ada seorang Troy Dyer yang mengatakan pada saya bahwa saya harus menjadi diri sendiri.

Ketika saya pernah bertitah bahwa saya ada seorang idealis yang dikecewakan realitas, kemudian sebuah keputusan besar mengubah pandangan saya kembali menjadi seorang idealis...Ketika perkataan Carl Sandburg terpatri di kepala saya, "I'm an idealist. I don't know where I'm going but I'm on my way", ketika itulah seorang 'Troy Dyer' berkata pada saya..."Jangan terlalu idealis di kehidupan yang serba instan ini."

Ia mungkin tidak menyuruh saya menjadi diri sendiri, tetapi ia mengingatkan saya bahwa perjalanan menjadi bahagia bukannya sama sekali memutus jalan keluar. Harus selalu ada keseimbangan.



Stasiun Purwakarta. Photos: Handa



Tak ada manusia yang benar-benar merdeka. Bahkan nama adalah doa yang mengikat hingga mati.

Pada suatu siang di gerbong kereta menuju kota Bandung, saya duduk bersebelahan dengan seorang bapak berpakaian rapi. Terlalu rapi untuk seorang penumpang di kelas bisnis. Sempat ada rasa kecewa di hati muda saya, 'Ah, kenapa saya tak pernah sebangku dengan lelaki muda tampan yang kemungkinan besar tersesat dan butuh kawan berpetualang?' Tetapi sudah sekian lama saya menerima nasib bertemu dengan orang-orang tua. Mungkin jiwa saya memang tua atau mungkin ini adalah pelajaran dari Yang Kuasa untuk lebih banyak belajar kearifan dari orang tua. Mungkin.

Kereta berjalan dan saya memasang headset, sebagaimana anak muda di abad ke-21 pada umumnya. Namun, bapak itu tetiba mengajak saya berbicara dan karena saya merasa tak enak, saya meladeni. Untunglah saya dilahirkan dengan kemampuan mendengarkan yang sempurna, jadi saya merasa tak keberatan mendengarkan kisah sang bapak. Obrolan pun dimulai. "Saya hendak menghadiri pernikahan anak buah saya," ujarnya. Wah, sangat rendah hati sekali seorang atasan mau repot-repot menghadiri pernikahan bawahannya dengan menggunakan kereta. "Kenapa enggak memilih di bangku eksekutif, pak?" tanya saya. "Wah, saya enggak tahu. Ini OB yang memesankan. Saya sih iya-iya saja hehehe," tawanya.

Dan ya, saya tidak menyesali keputusan melepaskan headset saya itu. Bapak ini menuturkan kalau inilah pertama kalinya sejak 15 tahun ia kembali menaiki kereta api. "Dan tidak ada perubahan yang signifikan," ujarnya dan saya mengamini dengan segenap hati. Ia lalu bercerita tentang masa mudanya yang dihabiskan dengan menjadi ahli membuat proposal di kampus dan seorang pemain basket. Hah, bapak ini dulunya adalah lelaki populer dengan banyak pacar, begitu pikir saya. Dan ternyata memang benar. Ia masih memiliki daya tarik tersebut meski sudah berusia 40-an.

"Saya sangat mengidolai Soekarno," lanjutnya lagi. Sejak kecil, ia dididik oleh sang ayah untuk mencintai sang proklamator. Seluruh buku biografinya sudah ia baca dan tak heran jika kini ia adalah simpatisan partai kepala banteng. Obrolan kemudian berlanjut tentang bagaimana tim sukses Jokowi bisa memenangkan pemilu hingga fakta bahwa melobi polisi dan jaksa melibatkan seks dan uang. "Itulah kenyataan pahit. Itu pekerjaan saya sehari-hari," ujarnya. Bapak ini bekerja sebagai legal di bank BUMN di Indonesia. "Banyak teman saya yang bekerja di luar negeri tak mau kembali ke Indonesia karena fakta itu. Yaitu di Indonesia Anda harus pintar menjilat dan melobi. Saya sih dibawa senang saja," ujarnya sembari tersenyum.

Namun, dari sekian kisah yang ia utarakan, satu hal yang menyangkut di pikiran saya. "Saya tidur hanya 2 jam sehari. Mungkin karena saya workaholic. Ketika akhir pekan pun handphone saya tak berhenti berdering. Saya tak bisa lepas dari ini...Hahaha menjadi manusia merdeka itu susah, dek. Tak ada manusia yang benar-benar merdeka," kisahnya. Saya terdiam sejenak. Bahkan seorang lelaki suskes berusia 40-an masih belum bisa merdeka.Kami lalu bertukaran nomor handphone dan ia menyemangati saya untuk mengambil S2 ataupun short course di luar negeri. "Mumpung masih muda dan punya banyak tenaga," jelasnya.

Kemudian ia mengajak saya untuk sesekali bertemu sembari meminum kopi. Saya mengiyakan sekaligus menyayangkan mengapa ini tak terjadi dengan lelaki muda tampan yang tersesat. Ah, sudahlah toh itung-itung tambah relasi. Sesudahnya saya iseng mencari jati diri bapak ini. Karena keahlian kepo saya melebihi peneliti CIA, langsunglah saya dapat akun linkedin bapak ini. Dan ya, saya tidak menyesal sama sekali. Ia adalah Asisten Vice President of Legal Bank Mandiri Indonesia.
Photo by Samuel Zeller

Mungkin itulah melankoli yang tak dirasakan mereka
Penghuni roda empat atau dua yang menyesakkan jalan
Genggaman tangan sepasang kekasih yang pulang terlalu malam
Dan kemudian terlelap di bangku kereta terakhir
Wajah mengantuk yang berharap pagi tidak datang terlalu cepat
Wajah-wajah asing yang terperangkap dalam gerbong kereta
Menuju rumah akhirnya setelah seharian berkelana
Bunyi berisik dari gesekan antar besi di bawah sana
Bagaikan ucapan selamat datang menuju peraduan
Dimana setiap gaungnya adalah melankoli yang tak bertuan
Selasa, 7 Oktober 2014
Kereta terkahir menuju rumah



·         It is healthy to let your heart out.

·         It is necessary to be vulnerable.

·         It is ok to feel happy and sad and happy and sad again…that means you’re alive.

·         There are some people who stepping into your life and gone for good but leaving valuable traces. And also there are some people who meant to be in your life, for bad and for good.

·         Do not depend your happiness on someone elses.

·         Stop controlling your life.

·         You can’t save someone soul or whatever. If you love them, just love them for the bad and the good. You can’t turn pity into love.

·         A good company doesn’t mean a good lover.

·         A good friend doesn’t mean a good boyfriend/girlfriend.

·         It is ok to admit that you’re lonely.

·         But maybe you’re not lonely, you just need to be more open for everything and everyone.

·        Love is fatal than fucking coccaine or any other sedative in this world. You never ever want to stop falling in love. Although it turns you into a masochist, self-abuse or even manic.

·        People who never falling in love does exist but that doesn’t mean that they’re destine to be alone. Some people are just too hard to feel their feeling.

·        Life doesn’t owe you anything so don’t complain when it gives you lemon. Make some lemonade, bitches.

·        It is ok to taste everything in the name of experience. But know your limits.

·        There will be one moment in your life that you say to yourself, “Ok, I need them boyfriend/girlfriend. A lover.”

·        Relationship won’t solve your problems and also marriage, but that doesn’t mean you don’t need them.

·         It is ok to feel miserable as a single, but that doesn’t mean you let your status defines you.

·         It is important to knowing yourself. Do your hobby and do everything that feels you.

·        Just because your smartphone doesn’t ring every fucking time or full of social media notification
      DOESN’T MEAN you’re lonely or less lonely than someone else who is busy checking their phone.

·        Afterall, ALWAYS REMEMBER YOU HAVE FAMILY, BEST FRIENDS, and GOD. If you have them, than you’re more than ok. You’re perfect.


Happy New Year 2014, everyone! Love you!

XOXO



 "Perhaps more important, people with happy dating lives aren't overly concerned about how their own actions will be perceived by potential mates: They text when they feel like texting, they have sex when they feel like having sex, they break up when something isn't working."

"But what the phrase "It will happen when you least expect it" really means is, "It will happen when you just stop worrying about it." It will happen when you let your guard down for a second, when you're thinking about something else, when for a moment all the stress and frustration and heaviness part like clouds, and some guy gets a glimpse of the real you that's been hiding underneath. I promise that's the corniest thing you'll read in this book, but it's true, it's true, it's true. It might not be immediate, but once you stop stressing, at some point it will happen."

Taken from How to Not Hate Dating by Chiara Atik.


Setiap pagi. Mungkin matahari baru menunjukkan sedikit kepalanya. Baru seujung rambut. Mereka bangun menuju tempat di mana uang adalah cahaya terang di akhir bulan. Mereka berdiri di tepi peron. Terlalu ke tepi sehingga dengan sedikit gaya mereka bisa jatuh dan mati terlindas kereta yang lewat.

Bunyi klakson kereta begitu keras memekakkan telinga. Angin bergesekkan dengan kecepatan kereta mencipatkan aroma debu yang pekat. Kereta berhenti, pintu terbuka, semua antusias bahkan brutal. Seakan pintu itu adalah surga. Kalau tidak masuk sebanyak dan sebanyak mungkin, kamu akan dibuang ke neraka terdalam.

Nyatanya, di dalam adalah neraka ke tujuh. Bagai pendosa berdesak-desakan menunggu untuk dibakar. Jangan berpikir untuk bisa duduk. Mereka yang duduk adalah mereka yang tak punya hati. Ibu-ibu tua menatap nanar perempuan muda yang tertidur pulas di kursi pemalas. Kaki tuanya bergetar tetapi tak ada yang gentar.

Keluar dari kereta, sampai di tujuan. Kota besar yang terlalu banyak gedung, kendaraan, polusi, orang miskin, dan sampah. Rumah-rumah beton bersbelahan dengan rumah terbuat dari tambalan kayu dan seng. Yang satu ciptaan arsitek, sebelahnya ciptaan orang yang mendadak kreatif karena terhimpit kemiskinan.

Aku berdiri di antaranya. Menjadi penonton yang budiman. Aku yang berharap memberi suara pada mereka yang tak diberi tempat, justru menjadi bagian mereka yang setiap malam habis dalam gemerlap musik terlalu keras dan alkohol. Aku yang masih ingin menulis kisah para perempuan yang menjual tubuh mereka di pedalaman hutan Kalimantan, malah menjadi bagian poros kehidupan lain yang jauh berbeda.

Aku yang sekarang belajar menjadi seperti kota ini. Kota yang tak punya hati.

Beruntunglah wahai manusia yang sedari dini menyadari gambar besar dalam skema yang dibuat Tuhan. Mungkin tidak bisa melihat juga, tetapi meyakini satu jalan dan mengimani sampai akhir. Ketika iman sudah mendampingi maka yang lain-lain adalah lubang di jalan mulus atau hujan deras kemarin sore -akan berakhir.

Tidak beruntung atau mungkin sulit adalah anak manusia yang menunggu kartu dimainkan nasib. Nasib si pemain kartu ulung yang sesukanya membuang kartu kunci. Terkadang ia suka menang atau dalam banyak hal tarik ulur antara menang atau kalau. Atau bahkan mengambang. Tidak jelas.

Bisa saja si anak manusia yang tidak beruntung itu menangisi atau mengutuki nasib, tetapi Tuhan Maha Baik. Tidak ada yang berakhir tanpa  menjadi apa-apa terkecuali ia yang memilih begitu. Kalau dilihat lagi, sebetulnya lucu. Hidup atau nasib sebetulnya memaksa untuk si anak manusia membuka mata lebih lebar lagi. Kalau tidak bisa memahami gambar besar, maka pelajari jejak-jejaknya. Tidak ada kebetulan. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja.

Si nasib tidak begitu saja membuang kartu ke atas meja judi. Toh daun bergoyang juga katanya atas perintah Tuhan.

Jadi, aku adalah anak manusia. Aku selalu terbawa permainan poker si nasib. Dulu sekali aku mengimani satu jalan tetapi meja kartu membawaku ke permainan lain. Kini aku ingin kembali menjadi pemain di kehidupan yang Tuhan berikan sedari aku di dalam rahim. Aku akhirnya menolak dimainkan karena hidup sudah permainan...mundur, lihat apa yang pernah kujajaki.

Imani. Yakini.

Hidup ini taman bermain dan aku adalah pemain.




Saya masih bocah SMP ketika guru agama saya dengan gamblang bilang berenang itu haram. Pernyataan tersebut didasari dari pakaian renang yang terbuka dan umbar aurat. Waktu itu saya yang masih berstatus atlet renang dengan ngotot bertanya, "Terus kalau dapat uang dari hasil berenang?" Dengan spektakuler ia menjawab, "Bearti uang itu haram". Dan selanjutnya yang terjadi adalah argumen sengit antara gadis 14 tahun dengan seorang guru agama. 

Sepuluh tahun kemudian, teman saya memperkenalkan versi baru dari guru agama saya itu. Siapa? Yes, he's @felixsiauw yang sebetulnya kalau bukan karena kehebohan Twitter -I have no idea who the hell he is. Jagat Twitter, termasuk teman-teman saya dibuat gerah sama pernyataan @felixsiauw tentang wanita karir. Saya sendiri baru ngeh ada kehebohan itu berhari-hari kemudian. Yang ujungnya membuat saya ngorek-ngorek timeline doi. Ini salah satu twit doi yang bikin heboh Why Full-Time Mother?

I read it. I eat it then throw it up.

Apa yang doi omongin menurut saya enggak ada salahnya. Ya benar Islam memilih lelaki sebagai iman dan mengutamakan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Ya benar sulit menyeimbangkan karir dan rumah tangga. Ya benar itu bukan berarti Islam melarang perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Cuma, yang menjadi alasan-alasan Felix mendasari ibu karir (wanita berkarir belum tentu punya anak suami yes?) adalah alasan angka perceraian tinggi dan jumlah anak broken home meningkat -itu terlalu general, subjektif, dan enggak berdasar. Lah doi cuma nunjukin hasil riset angka perceraian tinggi di Amerika yang isinya enggak ada hubungannya sama ibu-karir. Angka perceraian tinggi di Amerika bukan semata-mata karena banyak kaum feminis di sana. Doi juga cantumin hasil riset kalau urusan materi menjadi pemicu utama perceraian -lagi-lagi -enggak ada hubungannya ama ibu-karir.

Yes, yes, ibu-karir emang punya penghasilan sendiri...So? Apa bisa memicu pertikaian materi? Bisa kalo kamu Anang yang penghasilannya lebih kecil dari KD. Bisa banget kalau penghasilan istri lebih besar dari suami. Cuma ya gini loh, masalah materi itu terjadi di SEMUA keluarga. Mau yang istrinya berkarir kek, diem menjahit memasak di rumah kek, masalah materi selalu ada (bahkan gue yakin ampe Bu Ani dan SBY pun bertikai soal duit). Ibu-karir bukan pemicu utama masalah materi itu muncul. Terlalu dangkal kalau bilang ibu-karir itu pemicu masalah keuangan. 

Doi kemudian cantumin juga tulisan dari TIMES (kali ini sumber terpercaya) kalau menyeimbangkan karir dan keluarga itu sulit. That's right. Totally. Unarguable. 

Well, he mentioned "feminism" a lot without knowing that feminism itself is a complicated terms. What is feminism anyway? Saya rasa Felix adalah salah satu orang yang menganggap feminism itu gerakan yang menyamakan laki-laki dan perempuan secara total. Feminisme itu perempuan yang mendahulukan karir dan lupa anak suami. Feminisme itu...sangat tidak Islam.

Kesimpulannya....saya enggak ngerti kenapa teman-teman saya atau penghuni Twitter benci ama ini orang. He's only speak his mind base on his belief. Is that a crime? Is that wrong? No. He doesn't forces you to agree with him anyway. 

Saya juga enggak setuju sama sejumlah pendapat doi tapi apa kemudian saya harus benci? Apa saya harus nyerang akun Twitter-nya? No. Saya feminis dan saya ingin menjadi wanita karir, tetapi di lain sisi saya percaya jadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan ecek-ecek dan perkara S1, S2, atau MBA. I respect all full-time mother and also them who trying so hard to balance family and career. 

Saya kemudian berpikir, apa orang-orang risih karena doi berbicara in the name of God? For the sake of religion and heaven and hell? Just like my teacher said ten years ago in my Religion Class? Well, If I still that 14-year-old-hot-blooded girl, I would argue with him to death...but I'm not. I've learned my lesson: agree to disagree, freedom of speech for everyone (even for the dumbest one), and do not mess with other people beliefs -even if you talk in the name of God.







Tulisan berikut bukan dari investigasi saya langsung ke lapangan (mau aja sih ngerasain tinggal di sana tapi ya kan bayarin dong). Tulisan berikut adalah hasil pengamatan, paper trail, serta beberapa hal-hal lain yang kalo menurut kaidah jurnalistik itu gak sahih. Tapi ya kan, saya nulis buat hura-hura bukan buat Tempo. So...please enjoy.

sumber

Adalah klise tetapi abadi jika mengatakan tidak ada yang sempurna di dunia ini. Perfeksi adalah ilusi yang (katanya) tidak akan bisa direalisasi. Katanya kesempurnaan hanya milik Tuhan (itu pun bagi yang percaya kalau Tuhan ada), katanya kesempurnaan itu membosankan. Soalnya kata anak muda zaman sekarang "perfection is overrated". Jika mereka mengatakan demikian, maka mereka belum merasakan menjadi remaja di Korea Selatan atau mungkin menjadi masyrakat di sana.

Kalau kamu pernah nonton acara Midnight in Seoul di (aduh lupa channel-nya) yang dibawain sama Jamie Aditya, atau kamu adalah penggemar Kpop yang lagi marak sekali itu, atau kamu sekedar penasaran kenapa artis-artis sana itu kinclong clong clong dan membuat kita-kita ini bak rakyat jelata tak pantas berbuat apa-apa -pasti kamu tahu kalau operasi plastik adalah hal yang lumrah dan merupakan industri tersendiri di sana.

Teman saya pernah mentwit waktu nonton konser SNSD di tv: "Aduh mereka tuh kalo kemana-mana digendong ya? Kok kakinya bisa gitu?" Well, saya balas, "Lo gak liat? Itu bahkan kakinya gak napak" Padahal sebetulnya penampilan begitu bukan karena tidak pernah jalan kaki, tetapi ada yang namanya operasi pengurangan masa otot kaki. Juga penggunaan foundation di sekujur kaki dengan teknik tertentu biar terkesan jenjang. Rebek? Yeah.

Itu baru contoh "kesempurnaan" kecil yang tekniknya juga dipake model-model Victoria Secret (tapi yeah aslinya body mereka emang se-BAGUS itu, mari berdengki bersama). Kesempurnaan lainnya adalah "Iiih tu muka bening amaaat, cyiiin!" atau "Yaampun ganteng tingkat dewa" atau "Ohh goddes!" etc etc etc. Pujian bertubi-tubi sampai-sampai kamu tidak percaya wajah begitu bisa eksis di dunia ini.

Jawabannya adalah -ya, hanya satu -operasi plastik. Memang ada yang bawaan gen (hei, manusia itu makhluk sempurna ciptaan Tuhan toh), tetapi kebanyakan sih tidak. Kalau kamu hobi nonton variety show Korea (dalam hal ini Korea Selatan, karena tidak mungkin kamu menjadi masyarakat Korut dan bisa oplas, karena di Korut yang boleh sempurna hanya sang Presiden). Kalau kamu perhatikan antara sang artis yang melakukan syuting dengan masyarakat pada umumnya yang menonton. Kamu dengan mudahnya melihat mana yang rakyat jelata dan bukan. 

Tidak jauh beda kalau nonton acara Dahsyat atau acara-acara musik gak jelas di televisi-televisi nasional. Keliatan banget kan mana yang artis dan yang bukan, tetapi setidaknya kalau kamu beralih ke televisi lain (acara talkshow misalnya) masih ada yang sedap dipandang. Paling jomplangnya sekedar mana yang pakai make up dan sudah di blow rambutnya. Berikut web kalau kamu mau lihat betapa hebatnya hasil kreasi manusia di meja operasi inih. Mungkin beberapanya photoshop (saya suka enggak percaya juga), tetapi itu gambaran besar bagaimana perfeksi bisa direalisasi.

Berikut adalah artikel yang ditulis seorang guru bahasa inggris keturunan Kuba-Filipina-Korea-Amerika yang merasa "tidak cukup cantik" ketika mengajar di Korea. Bukan, karena ia tidak merasa cantik, tetapi perfeksi orang Korea atas sebuah kecantikan itu begitu tinggi. Dan jika seseorang tidak memenuhi standar tersebut...then you're ugly. 

Saya di sini bukan di sini untuk menghakimi, karena memang tidak bisa dipungkiri "we see what we want to see" dan "we judge (intentionally or unintentionally) from the outside". Seperti kata Oscar Wilde, beauty is the wonder of wonders. It is only shallow people who do not judge by appearances. The true mystery of the world is the visible, not the invisible.

Berikut adalah rekaman video mini-dokumentar seorang siswi SMU asing yang bersekolah di Korea. Ia membuat mini dokumentar mengenai sudut pandang siswi SMU di sana mengenai kecantikan dan operasi plastik.








tunjuk satu jalan dan imani hingga mati

bila gelap berada di tengah setapak, imani bahwa Tuhan tak memberikan bintang di langit cerah.

bila ragu merestui sepanjang jalan, imani bahwa hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian.

tunjuk satu jalan dan jangan sesali

sesungguhnya jiwa yang terang bermula dari sebuah iman di jalan yang tak pernah pasti
Pengangguran itu bagai black hole. It sucks your very deepest soul and brings you into another whole new dimention ... laziness. this post is all about repost from the soul-less, the infamous web meme 9gag. I found it  fascinating because ... it gives you the best advice to keep going with your life.

Best advice for women out there:

To find a keeper


























To be a good wife and woman





















For you who aren't popular girl at school














A reason to stay at the kitchen and good at cooking




























































A thing about man that you need to know




















Escape from friendzone










































































To be the fiercest woman on earth

Oke, belakangan gue lagi jatuh cinta sama blog nggakbisagitudong ini blog isinya tentang curcol seorang warga Indonesia mengenai berbagai peristiwa (baik lokal maupun internasional). i like her (i guess it's a 'she') perspective and her witty and smart personality that reflected from her words.

Oke, jadi karena itu gue pinjem phrase "nggak bisa gitu, dong!" ke dalam judul post kali ini. dipinjem ya mbak sehari ajah.

Oke, ini tahun 2013 dan gue (dan segenap warga Indonesia yang sadar dan berbudiman) masih belum bisa  sepenuhnya bersyukur jadi warga negara Indonesia. weits! bukannya enggak nasionalis nih. sumpah kalo disuruh bela negara di kejuaran apapun gue bersedia! masalahnya sih simpel yah. LOGIKA.

Dimulai dari berita paling "enggak bisa gitu dong" hari ini. Angie, si Angelina Sondakh, yang nilep duit 30 milyar itu, cuma didakwa maksimal 4 tahun dan denda 250 juta. hiiy! maling ayam aja pake digebukin dulu terus dipenjara lama. nenek-nenek nyuri biji cokelat (padahal cuma 2 biji! -kasih aja sih!) doang dibawa ke pengadilan. ini, orang yang nilep duit bermilyar-milyar "dipenjara" 4 tahun dan cuma bayar seharga tas yang biasa doi pake?! logika-nya mana? ENGGAK BISA GITU DONG, PAK HAKIM!!


Kisah lain yang enggak kalah "enggak bisa gitu dong" adalah kasus nyata dialami kerabat deket keluarga gue. jadi kerabat gue ini habis kemalingan gara-gara hipnotis (btw gue bertanya-tanya kasus hipnotis gini cuma di Indonesia doang apa di negara-negara dunia ketiga n negara maju ada juga enggak sih?) doi hilang uang sekitar 7 juta beserta perhiasan. logikanya ya minta tolong polisi dong yah. prosedur formal: ngelapor lalala beres...segerompolan polisi dateng ke rumah kerabat gue ini buat meriksa TKP ceritanya. eh dan eh! ujung-ujungnya mereka minta 'jatah'! segerombolan ini pulang, dateng lagi 2 polisi bilang mereka belum dapet 'jatah'! sintingnya lagi, ternyata eh ternyata oknum maling ini kerja sama ama pihak kepolisian buat bagi-bagi jatah! ENGGAK BISA GITU DONG, PAKPOL!!

Logikanya elu-elu itu nolong masyrakat, tempat masyarakat minta perlindungan dari kejahatan eh ini malah morotin!! logikanya kemana, pakpol??!

Itu untuk hal-hal yang besar ya. untuk hal-hal kecil ternyata juga enggak kalah sinting. kalo kamu rajin nonton acara investigasi soal produk-produk rekayasa di salah satu televisi swasta...niscahya lo jadi parno ama semua makanan yang dijual di Indonesia! ya baso boraks lah, baso oplosan daging celeng lah, tahu formalin, roti berjamur didaur ulang, ayam tiren dan berbagai bentuk 'kekreatifitasan' warga Indonesia yang oportunis. ya, lagi-lagi ini juga masalah perut dan uang yah. emang diakui nyari duit di Indonesia itu susah tapi ya enggak bisa gitu dong. enggak bisa pake jalan pintas yang bikin orang jadi at least keracunan (itu at least yah, gimana kalo mati coba?) logika dipake, hati juga dipake.


Kesimpulan: bukan hanya cinta yang tak berlogika, perkara uang juga tak berlogika

Tapi di atas segala hal yang terjadi (buruk baik -seringnya sih buruk), bersyukur adalah satu-satunya cara untuk tetap waras. kalau mau komplain dan mencak-mencak sih banyak yang bisa dikomplain, ditegur, dijambak, dipukul, dilempar tapi ya sebagai manusia berlogika dan berhati budi jadi bersyukur lah.

Seperti apa kata bang gm_gm aka goenawan mohamad:
"Doa tengah malam: Berilah kami kesempatan dan kemauan bersyukur karena terlanjur jadi orang Indonesia. Bersyukur di negeri yg tak mudah rasanya lebih berarti ketimbang bersyukur di negeri yg serba gampang"



Pusat peradaban Indonesia enggak cuma di jakarta atau pulau jawa. padahal ini sudah tahun 2012 dan mayoritas orang masih terjangkit penyakit jakarta-sentris atau jawaisme. padahal era Soeharto sudah menjadi bagian dari sejarah kelam, padahal taman hiburan indoor terbesar di Indonesia pertama kali dibuat di Makassar, padahal 'surga'-nya negeri ini mayoritas enggak di pula jawa. ya meski tanpa pulau Jawa kita-kita ini bisa-bisa enggak makan nasi dan tanpa Jakarta kita enggak punya ibukota dan monas -tapi toh beras juga akhirnya import (yeah, right) dan Jakarta jadi kota super gerah berpolusi. monas? monas tetaplah monas -untungnya.

Seperti orang bule yang nyangka indonesia itu bagian dari bali (geografi mereka buruk banget atau menteri pariwisata indonesia yang enggak guna) -teman-teman saya di pulau jawa ini nyangka kalau di luar pula jawa itu cuma sekedar air dan laut. saya masih inget begitu saya bilang asalnya dari Bontang kalimantan timur, mereka nanya "kamu ke sekolah naek apa? sampan?" saya mengiyakan. saya cerita kalau saya ke sekolah itu harus naik sampan dulu, ngayuh sekian menit baru sampai sekolah. entah mengapa, saya merasa keren sekaligus kasihan saat itu.

Padahal saya pulang-pergi sekolah ya kalo enggak naek Mercedes Benz (bus sekolah), motor-motor yang sedang nge-tren kala itu (dianter gebetan), sedan baleno (nebeng temen), atau jalan kaki (yang hanya memakan waktu 15 menit). saya tidak mau membeberkan itu semua ke temen-temen saya di pula jawa ini -saya enggak mau mereka iri.

Karena bukan pulau jawa, saya tumbuh berkembang tanpa mall, bioskop, dan photobox. tetapi, saya sudah mengenal mesin karaoke jauh sebelum orang-orang pulau jawa pada umumnya. saya kenal film dari bentukan vhs, laser disc, compact disc sampai dvd. Saya sudah familiar dengan baseball, softball, bowling, sailing, speed boat, party on a boat, pesta BBQ (dengan daging steak, burger, n sosis yang berukuran extra), cold beer, bar, REAL rum (bukan aroma rum buat kue pada umumnya but real rum straight from the bottle -blamed on my mum yang selalu bawa saya ke mini bar untuk minta rum buat kue-kuenya dan chocolatechip cookies paling enak slama hidup saya adalah buatan tante Perancis yang rasanya full of rum -superb!)  MTV, cartoon network, HBO, disney channel, dan saya terbiasa dengan kehidupan yang 'bukan Indonesia banget'. karena 1) kota kelahiran saya banyak orang ekspatriat 2) rumah saya waktu kecil deket banget ama rumah-rumah mereka 3)orangtua saya termasuk orang 'senior' di sana yang paling sering beirnteraksi dengan bule-bule ini.

Jadi dari bayi saya terbiasa makan makanan import hehehe. makanya kalo saya jalan-jalan ke supermarket Setiabudi (di Bandung), saya berasa nostalgia soalnya barang-barang yang dijual di sana sama persis dengan yang dijual di Commisary (semacam supermarket).

Selain nuansa yang 'bukan Indonesia banget', di lain sisi justru kota ini bagaimana seharusnya INDONESIA yang berbhineka tunggal ika. bhineka tunggal ika di sana bukan sekedar slogan yang dipegang-pegang burung garuda. karena banyak sekali pendatang jadi saya terbiasa dengan berbagai macam kebudayaan. enggak cuma jawa. enggak cuma Jakarta. di kota ini saya dididik untuk enggak jawa-sentris. Batak, Padang, Palembang, Manado, NTT, Toraja, Makasar semua ada. jadi kalo hari raya biasa nyicipun semua masakan Nusantara. dan oh dan OH saya dan segenap warga di kota ini sudah mengenal pluralisme dan toleransi antar beragama -bahkan jauh sebelum Gus Dur jadi presiden.

Oke, sekian pamer-pamernya haha jadi di manakah ini? dimanakah letak kota kecil antah berantah yang jika diandaikan bak peradaban mesir kuno di masa peradaban kuno manusia ini?

folks, it's called Bontang. It is in East Borneo. where were all of these wonders happenned exactly?Komplek PT Badak.

We have pyramids and sure we have babel.

Kalian pernah menonton serial tv The OC? yup, menurut saya kota kelahiran saya ini mirip dengan kota orange county yang elit itu lengkap dengan pantai dan pasir putihnya.

Video-video berikut adalah buatan the lovely and talented gentleman, yang sekaligus mantan tetangga saya Gersom Situmorang.









Foto-foto berikut adalah buatan warga Bontang juga, saudara saya yang sangat berbakat, Ekajati Winarmo
Ini pulau kecil Beras Basah, bukan warga Bontang kalau belum tawaf di sini. dulu sih bosen ke sini sekarang ... CULIK GUE KESANA!!








Bontang Kuala. Bayangkan makan seafood segede-gede dinosaurus with this view.
Pabrik LNG Badak

Saya sendiri baru tau ada beginian di bontang hahaha

Oke, bayangkan lagu berikut diganti, california menjadi bontang

We've been on the run, driving in the sun, looking out for number one, bontang city here we come, right back where we started from



teman saya pernah me-retweet dari akun sudjwo tedjo. saya lupa dengan detail twit tersebut, tetapi isinya kurang lebih seperti ini:

"seseorang ingin menjadi A, tetapi sekelilingnya ingin ia menjadi B, perlahan ia pun menjadi B tanpa pernah mencoba untuk menjadi A,"

kalau saja manusia itu semudah mengeja dari A sampai Z, niscahya hanya ada 26 tipe manusia di dunia. hanya ada 26 cara untuk menjadi 'orang'. hanya ada 26 cara menjadi 'manusia'. untung saja, Tuhan itu kreatif. untung saja, Tuhan tahu bahwa dunia terlalu luas jika hanya dihuni dengan 26 tipe  manusia. bahkan terlalu luas jika hanya diisi manusia.

celakanya atau untungnya, sifat manusia sebagai makhluk sosial membuat mereka mengaburkan perbedaan dan ragam. berbeda menjadi problema. tidak sama ditanya mengapa. berbeda disebut apa. normal menjadi sama. standarisasi menduduki hingga ke lahan pola pikir dan tingkah laku.

jika dilahirkan kembali, saya tidak ingin merubah apapun kecuali satu -saya ingin dilahirkan dengan menjadi salah satu abjad. biarlah tak beragam dengan hanya berjumlah 26, tetapi setidaknya mereka -para abjad -lahir dengan bentuk dan bedanya masing-masing. mereka tak pernah takut jika berbeda. mereka berdiri dan berfungsi karena berbeda. A, I, U, E, O yang berbeda tetapi vokal. S yang sepi dan diam. B yang terasa tebal. R si pembuat onar. Z, si penutup yang gagah. mereka berkoloni tanpa perlu merasa untuk menyamakan bentuk. mereka terangkai baik dan bisa didendangkan karena berbeda.

mungkin begini bagaimana tiap abjad dibesarkan oleh orangtua mereka, ketika kamu yakin dirimu adalah A dan selalu ingin menjadi A, tak perlulah kau mengeja hingga akhir.

mungkin...


kata orang kejarlah pendidikan hingga ke negeri cina. kalau saya lebih memilih kejarlah pendidikan hingga ke titik darah penghabisan. tapi, di negeri ini slogannya lain lagi, "kejarlah daku (pendidikan), tak punya uang? kau tak akan kutangkap" makanya, enggak heran kalo akhirnya mayoritas masyarakat di sini ngos-ngosan ngejar pendidikan yang songongnya ngalah-ngalahin Cleopatra -jual mahalnya enggak kira-kira.

tadi saya ngobrol-ngobrol ama emang angkot. sebuah kebiasaan yang suka saya jalani kalau lagi bosen di angkot. tekniknya gampang, duduk di sebelah supir dan the art of basa-basi. sebetulnya saya bukan orang yang ahli basa-basi tetapi sebagai lulusan fikom setidaknya saya tahu tips n triknya.

mulailah cuapcuap asoy saya dengan si emang. doi cerita kalo waktu doi SMP, uang saku doi perminggu itu 1000 rupiah (gue harus bilang WOW!) dan uang segitu cukup untuk biaya seminggu (makan, ongkos jalan, dll) itu sekitar tahun 80-an (Orde Baru masih sangat jaya dan dosa-nya belum ketauan). jangan dibandingkan dengan sekarang karena memang kondisi ekonomi baik secara nasional dan global sudah sangat berbeda (eropa dan amerika aja krisis -apalagih kitah!!)

uang 1000 perak sekarang malah jadi 'aib' tersendiri dan itu dialami oleh teman saya ketika ia membayar angkot dengan uang aib tersebut. si emang dengan santai berkata, "ya ampun neng, hari gini masih ada uang 1000?" seketika hati teman saya itu terkoyak.

tetapi, yang menakjubkan dari cerita emang ini adalah ia mampu menyekolahkan anaknya hingga SMA. modalnya hanya dengan menjadi supir angkot. dia bilang anaknya mau lanjut kuliah dan itu membuatnya bahagia sekaligus ketar-ketir -darimana uangnya? belum lagi anaknya yang lain juga masih SMP. "Hormatin orangtua. jangan nyusahin mereka. soalnya mereka yang banting tulang cari uang," itu pesen si emang.

cerita belum berhenti di situ, si emang kemudian cerita tentang teman SMP-nya yang 'lebih tidak beruntung' dari doi. temennya itu seminggu cuma dikasih 500 perak. bapaknya penjaga sekolah, tetapi karena dia pinter, dia lanjut sekolah sampe kuliah. entah bagaimana, tetapi kata si emang temennya itu sempet jadi tukang bersih-bersih masjid. "sekarang dia dosen di UI dan istrinya dosen UPI" WOW just WOW!

kemudian saya berpikir, selain nasib, perbedaan si emang dan temennya adalah sebuah kemauan untuk terus belajar. si emang yang akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah di SMP dan setelahnya memutuskan untuk menjadi supir (baik angkot maupun truk batubara di kalimantan), bisa aja jadi kayak temennya, jadi dosen atau profesi mentereng lain. tetapi ia memilih yang lain. pilihan hidup yang lain. apakah salah? enggak karena ia juga menjadi orang hebat yang bisa menyekolahkan anaknya lebih dari dia. ia pulang malam banting tulang demi menyekolahkan anaknya.

hal lainnya adalah betapa sebuah kemauan untuk terus belajar akan membawa seseorang ke tempat yang sama sekali di luar dugaan.

di akhir pembicaraan si emang bilang, "kalau kerja cuma pake otot mah enggak banyak hasilnya. kalau pake otak baru banyak," intinya doi mengatakan jangan berhenti belajar. "hargai orangtua dan orang kecil," kata doi lagi, "kalau masih mampu, jangan berhenti belajar," belajar enggak cuma di bangku formal tetapi di mana aja. belajar jurnalistik (seperti saya) memang enggak akan berpenghasilan banyak (mana ada wartawan yang tajir) tetapi buat saya di sana saya belajar untuk memiliki mental baja, kritis, dan peduli akan kemanusiaan.

pesan "kalau masih mampu jangan berhenti belajar" ini juga saya dapati dari seorang bapak-bapak yang ternyata pegawai Kemendiknas (yang saya 'cuap-cuap'-in waktu lagi gladi resik wisudaan). juga saya dapat dari bapak-bapak penjaga kolam renang (yang sekali lagi saya 'cuap-cuap'-in waktu mau beli tiket kolam renang)

pendidikan yang tinggi memang tidak menjamin seseorang jadi 'orang', tetapi kemauan untuk terus belajar (dimanapun kapanpun) bisa membuat seseorang menjadi 'orang super'. belajar bukan hanya untuk uang yang banyak, tetapi kebaikan. sebaik-baiknya orang adalah yang berguna untuk orang lain, to'?

si emang kemudian menyalakan sebatang rokok dan melaju bersama angkot yang menjadi 'sekolah'-nya selama ini. 'sekolah' yang menghasilkan uang untuk anaknya agar mendapat pendidikan yang lebih baik.

dia sendiri mungkin tidak sadar kalau dia adalah 'sebuah pendidikan'. bagi saya. bagi kamu. terutama bagi pendidikan negeri ini yang seperti Cleopatra itu.





it's not like i'm innocent -i like Kpop. and NO i'm not talking bout which member of SNSD who's got most plastic surgery or why they're always denied while the facts are obvious.

i like kpop. why? because it's purity of entertaiment. it's irony, it's plastic world, but yet extreme hardwork. kpop industry doesn't believe in instant popularity (far far different in indonesia's entertaiment industry). if they want to debut a girlgroup or boygroup or a singer -they put a lot of money and efforts to do it. they'll make sure the group they're produced have talent (sing, dance, and act) and integrity. and the trainee her/himself have to work really really hard to debut. and i'm not talking bout a year or two but YEARS!

so, if you judge them as 'lame' boyband and 'annoying' girlgroup -you had no idea what they've been through. personally, mostly, i salute them for that. for the hardwork to pursue their dreams, the resistance, the determine, and of course -most of all -the energy to face the after-effect of popularity. most of them started to train very early -around pre-teen. so imagine, while you spent your time hang out with your friends and your parent's money, they worked really really hard every single day JUST to be that 'annoying' or 'lame'.

BUT, there's some things in kpop industry bothers me. which bothers me most are image and costume. i don't know if they had law for underaged or not. this is an irony for me because i dont mind sexy dance and sexy costume BUT if teen girls singing and dancing in racy costume -dont you feel there's something wrong with that? i mean...if you look closely, Miley Cyrus or even teenage Britney Spears are nothing compare to the them.

here's the list:

RANIA


well, they got banned in Korea and they had to changed some choreography if they want to do live show. the youngest member of this group was born in '93 and they're even on Maxim! they've been called asian pussycat dolls but unlike them -they ALL can sing and dance. personally, i like them. why? because if you want to be sexy then do it 100% and they did it 150%...nicely done.

T-ae: guess? 19 (or 18 when this photo taken)

Xia: yes, sir, she's also 19 (or 18 when this photo taken)


HYUNA '4 minutes'


this mv was lead to controversial in Korea as well the choreography. she was just 18 when this video released. well, apparantely, this song listed as SPIN's 20 best song of 2011. i dont really favor her and my first impression of this song (and video) was annoying. but as time goes by i started enjoy it. she gave me some weird confidence that even a kpop star has cellulite.

hello, missy, how old are you? what? 18? 19?


After School


after school is one of the senior girlgroup in kpop industry. i think, this mv is their wildest and naughtiest video ever. the newest and the youngest member was born in 94'. also, there were other members in 92's line. i like them because despite of everything -they're good. but, Sir, puting teen girls (under 21) in lingerie is STILL such a disturbance and smell illegal.

kaeun: she's just 18, dude
eyoung: well, 20
lizzy: yeah, 20

waktu saya kuliah, saya diperkenalkan dengan orang-orang hebat. orang-orang yang ketika saya masih kecil tidak pernah masuk daftar pilihan cita-cita di masa depan. waktu saya kecil, teman-teman saya dengan lantang bilang ingin jadi dokter, insinyur, atau pegawai kantoran seperti orangtua mereka. saya? saya tidak pernah memiliki cita-cita tertentu (hingga detik ini).

waktu saya kuliah, saya diperkenalkan dengan orang-orang hebat. orang-orang yang mau mati demi kebenaran. mau miskin demi kebahagiaan orang banyak. orang-orang yang orangtua manapun tidak rela anaknya 'jatuh' kesitu.

waktu saya kuliah, saya pertama kali kenalan dengan Veronica Guerin. perempuan yang hidupnya berakhir dengan peluru yang menancap di tubuhnya. perempuan yang hidupnya berakhir atas nama kebenaran. fakta. selanjutnya, saya kenalan dengan Udin, wartawan Bernas Yogyakarta yang hidupnya berakhir di ujung batang besi. masih banyak nama lain, Marsinah, perempuan hebat dari kelas buruh (kalau mau ber-Marxist) yang berakhir dalam penyiksaan berat. yang paling fenomenal, Munir, yang meninggal di udara.

apa saya mau menjadi seperti mereka? apakah cita-cita saya menjadi semulia itu?

tidak. saya memilih untuk menghargai semangat dan dedikasi mereka untuk kemanusiaan. karena rasanya semakin kesini manusia semakin tidak manusiawi. dan yang terpenting SAYA MENOLAK LUPA. cukuplah bagi saya dan anak-anak muda lainnya untuk selalu mengingat orang-orang hebat ini. untuk tidak lupa.

mengapa?
karena memori harus terpelihara dan sejarah harus ditata. sejarah tak harus selalu berpihak pada yang menang. akan selalu ada orang-orang yang berjuang hingga akhir hari. demi kebenaran. demi cinta akan sesama dan keadilan. mungkin sekilas tidak berarti banyak tetapi ini adalah peringatan bagi pemerintah (yang mungkin sebagiannya adalah pelaku) dan pelaku, bahwa orang-orang ini menolak untuk lupa atas apa yang terlah terjadi. baik bagi mereka yang mati dalam ketidakadilan ataupun ia yang mati di udara.


"You’re waiting for a train. A train that will take you far away. You know where you hope this train will take you but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. How can it not matter to you where that train will take you? Because you’ll be together" 
                            
 Mal, Inception

You can't decide either you're too afraid to step into the train or you're too afraid to even get into the station. You're just wandering outside and keep complaining why the train never seems to come.


That’s because you’re not even waiting behind a standing line.

don't you wanna know where that train will take you?

uncover what's stood at the end of the line



see, listen to your grandma...